Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2017

DOWNLOAD MEDIA PEMBELAJARAN POWERPOINT PPKN SMP KELAS 7 KURIKULUM 2013 (BAGIAN 2)

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari  kata  medium  yang  secara  harfiah  dapat  diartikan  sebagai perantara  atau  pengantar. Menurut  Heinich,  Molenda,  dan  Russel (dalam Instructional  Media,  1990)  diungkapkan  bahwa  media  ”is  a channel of communication. Derived from the latin word for “between”, the term refers “to anything  that  carries  information  between a  source and a receiver.


Proses mencar ilmu mengajar hakikatnya yakni proses komunikasi,  guru berperan  sebagai  pengantar  pesan  dan  siswa  sebagai  penerima  pesan. Pesan  yang dikirimkan  oleh  guru  berupa  isi /  ajaran yang  dituangkan  ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata & tulisan) maupun nonverbal.  Proses  ini  dinamakan encoding.  Penafsiran  simbol-simbol komunikasi  tersebut  oleh  siswa  dinamakan  decoding.  Namun bagaimanakah  bentuk  dan  wujud  dari  media  atau  perantara  ini,  hal tersebut  harus  disesuaikan  dengan  jenis  dan  karak-teristik  materi  yang akan  disampaikan  serta  kemampuan  guru  tentang  pengetahuannya mengenai  media.  Sebagai  contoh  dalam  proses  pembelajaran  maka hal yang  harus  diperhatikan  ketika penyampaian materi/informasi  berlangsung adalah  keluasan,  kedalaman  dari  materi  pelajaran,  selain  itu  juga  waktu yang  diperlukan  untuk  mengajarkan  materi  tersebut,  dan  kondisi  yang tersedia  di  sekolah,  sehingga  media  menjadi  efektif  digunakan  dalam proses pembelajaran.

Selain  sebagai  perantara  dalam  interaksi  belajar  mengajar,  media pembelajaran memiliki peran sebagai alat bantu proses mencar ilmu mengajar yang efektif.  Proses mencar ilmu mengajar seringkali ditandai dengan adanya unsur  tujuan,  bahan,  metode,  dan  alat,  serta  evaluasi.  Keempat  unsur tersebut  saling  berinteraksi  dan  berinterelasi.  Metode  dan  media merupakan  unsur  yang  tidak  da-pat  dipisahkan  dari  unsur  pembelajaran yang  lain.  Metode  dan  alat,  yang  dalam  hal  ini  adalah  media pembelajaran  berfungsi  untuk  menyampaikan  materi  pelajaran  biar hingga kepada tujuan.  Media  pembelajaran  adalah  suatu  alat  yang  dapat  membantu  siswa supaya  terjadi  proses  belajar.  Dengan  menggunakan  media pembelajaran  diharapkan  siswa  akan  dapat  memperoleh  aneka macam pengalaman  nyata,  sehingga  materi  pelajaran  yang  disampaikan  dapat diserap dengan mudah dan lebih baik.

Penggunaan  media  dalam  pembelajaran  didasarkan  pada  konsep bahwa mencar ilmu dapat ditempuh melalui aneka macam cara, antara lain: dengan mengalami secara pribadi (melakukan dan berbuat), dengan mengamati orang lain, dan dengan membaca serta mendengar

Berikut ini media pembelajaran dalam bentuk powerpoint untuk pembelajaran PPKN SMP kelas 7 Bagian 2

Pada posting kali ini 5 Jenis Powerpoint yang akan sharrekan yakni :

1.    Powerpoint wacana Norma Dalam Kehidupan Masyarakat ( Macam-macam Norma, Norma Kesusilaan )
2.    Powerpoint wacana Macam-macam ( Norma Kesopanan,Norma Agama, Norma Hukum )
3.    Powerpoint wacana Arti penting norma dalam mewujudkan keadilan
4.    Powerpoint wacana Keadilan dalam Masyarakat
5.    Powerpoint wacana Perilaku Sesuai Norma dalam Kehidupan Sehari-hari


Bagi yang berminat silahkan Klik Link download di bawah ini

LINK DOWNLOAD KUMPULAN MEDIA PEMBELAJARAN (POWERPOINT) PPKN SMP KELAS 7 KURIKULUM 2013  BAGIAN 2 (KLIK DISINI)

Mohon Perhatian gunakan password: ainamulyana.blogspot.co.id  untuk membuka file tersebut

Terima kasih Mudah-mudahan bermanfaat.


Baca Juga Kumpulan Media Pembelajaran (Powerpoint) PPKN SMP Kelas 7 Kurikulum 2013 Bagian 3 (KLIK DISINI)




= Baca Juga =




Sumber https://roda-pendidikan.blogspot.com/

Selasa, 31 Januari 2017

MODEL PEMBELAJARAN PPKN SMP KURIKULUM 2013

Berikut ini Contoh Model Pembelajaran PPKN SMP Kurikulum 2013. Mudah-mudahan Model Pembelajaran PPKN SMP Kurikulum 2013 yang diproduksi Pusttekom dan direktorat Pembinaan SMP ini dapat menginpirasi para guru PPKN



  

Alamat Link Youtobe Model Pembelajaran PPKN SMP Kurikulum 2013: https://www.youtube.com/watch?v=IFFaH9s4veE

CARA DOWNLOAD

1. Copy Alamat Link Youtobe yang dicetak miring di atas atau https://www.youtube.com/watch?v=IFFaH9s4veE

2. Langkah selanjutnya buka link en.savefrom.net atau KLIK DISINI

3. Kemudian paste-kan URL Video yang akan didownload yang telah dicopy pada kotak pencarian savefrom.net. Kemudian klik icon unduh yang berwarna biru.



4. Maka akan muncul tampilan menyerupai di bawah ini. Ikuti petunjuk pada gambar untuk melakukan download. Untuk mendownload lagu silahkan klik Download MP4 seperti pada gambar di bawah.





5. Proses unduh dimulai, dan tunggu sampai selesai. Dan selamat menikmati Video Model Pembelajaran PPKN SMP Kurikulum 2013.



Sumber https://roda-pendidikan.blogspot.com/

Rabu, 04 Januari 2017

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )

A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Cooperative Learning merupakan seni manajemen pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Saptono, 2003:32). Kepada siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus semoga dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, mirip menjelaskan kepada sahabat sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya.

Strategi pembelajaran dengan kooperatif learning dipakai alasannya yaitu untuk menunjukkan pemahaman kepada siswa perihal arti pentingnya kerjasama kelompok namun tetap memperhatikan terhadap perjuangan individual. Hal ini sesuai dengan sifat dan kodrat manusia sebagai mahkluk sosial. Selain itu bila dikaitkan dengan profesi dalam bidang teknologi informasi yang sering bekerja secara kelompok atau tim. Oleh karena  itu perlu kiranya dalam pembelajaran diberikan pemahaman perihal arti pentingnya kerjasama dan sama kerja dalam kelompok.

Ada 5 prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, (5) evaluasi proses kelompok (Lie, 2002). Menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan, dan hadiah. Struktur Tugas, siswa melakukan program secara tolong-menolong (kerjasama dan sama kerja). Struktur Tujuan, tiap-tiap individu ikut andil menyumbang dalam pencapai tujuan. Struktur Hadiah, keberhasilan individu yaitu atas perjuangan secara bersama-sama.

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )

B. Landasan Teoritis dan Empirik Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

John Dewey 1916, Democracy and Education.
  1. Kelas merupakan cermin masyarakat tempat untuk berguru kehidupan nyata.
  2. Guru menciptakan lingkungan berguru dengan prosedur demokrasi dan ilmiah.
  3. Memotivasi siswa untuk berguru secara kooperatif.

Herbert Thelen 1954, 1969.
  1. Mengembangkan pembelajaran semoga siswa berguru secara kelompok.
  2. Kelas mmerupakan laboratorium untuk mengkaji duduk perkara sosial dan antar pribadi.

Gordon Allport
  1. Kontak eksklusif antar etnik.
  2. Berperan dalam kelompok dalam seting tertentu.
  3. Setting itu mendapatkan persetujuan antar etnik.

  1. Melaporkan 45 penelitian perihal pembelajaran kooperatif dan pengaruhnya terhadap hasil belajar.
  2. Studi ini meliputi semua kelas dan bidang studi bahasa, geografi, ilmu sosial, sains, matematika, membaca dan menulis.
  3. Lokasi penelitian di Israel, Nigeria, Jerman, dan USA.
  4. Hasilnya 37 di antaranya menunjukkan hasil yang signifikan, 8 tidak ada perbedaan, dan tidak satupun menunjukkan pengaruh yang negatif.

Lundgren 1994
  1. Memberikan dampak kepada siswa yang berkemampuan kurang.
  2. Memberikan motivasi kepada siswa yang lain.

Mohamad Nur 1997
  1. Meningkatkan pencurahan waktu dan tugas.
  2. Memperbaiki kehadiran.
  3. Pemerimaan perbedaan individu menjadi lebih besar.
  4. Perilaku penganggu menjadi lebih kecil.
  5. Konflik antar eksklusif menjadi berkurang.
  6. Sikap apatis berkurang.

Harmanto 2004 (di Perguruan Tinggi/mahasiswa kegiatan studi PKn)

  1. Menyenangkan
  2. Tingkat kelulusan tinggi (98%)

C. Unsur-unsur dan Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Menurut Lie (2002) ada Lima unsur Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning
  1. Saling ketergantungan positif.
  2. Tanggung jawab perseorangan
  3. Tatap muka
  4. Komunikasi antar anggota
  5. Evaluasi proses kelompok (Lie, 2002).

Sedangkan menurut Lundgren (Sukarmin, 2002:2), Unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan pada diri siswa semoga Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning lebih efektif yaitu sebagai berikut :
a) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau  berenang bersama”
b) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d) Para siswa harus membagi peran dan menyebarkan tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok.
e) Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akanikut kuat terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f)  Para siswa menyebarkan kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.   
g. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Sementara itu, menurut Nur (2001:3) pembelajaran yang menggunakan model cooperative learning pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b) Kelompok dibentukdari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, bangsa, suku,dan jenis kelamin yang berbeda-beda.    
d) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF


D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning
Adapun kelelihan model pembelajaran kooperatif adalah
a) menunjukkan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep sendiri dan cara memecahkan masalah,
b)memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreatifitas dalam melakukan komunikasi dengan sahabat sekelompoknya,
c) membiasakan siswa untuk bersikap terbuka namun tegas,
d) meningkatkan motivasi berguru siswa,
e) membantu guru dalam pencapaian tujuan pembelajar. Kare4na langkah-langkah pembelajaran kooperatif mudah diterapkan di sekolah,
f)  mendorong motivasi guru untuk menciptakan media pengajaran, alasannya yaitu media begitu penting dalam pembelajaran kooperatif.

Sedangan kelemahan model pembelajaran kooperatif yaitu  diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan diskusi, mirip berguru kelompok biasa, siswa yang pandai menguasai jalannya   diskusi, sehingga siswa yang kolot kurang kesempatan untuk   mengeluarkan pendapatnya, yang tidak terbiasa dengan belajar. Selian itu dalam penerapan model pembelajaran kooperatif, kelompok yang merasa gila dan sulit untuk bekerja sama.
Selain itu kelemahan lain penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning  yang sering muncu, yaitu:
a) Jika tidak ada bimbingan dari sahabat dan guru maka ada kalanya siswa yang selalu "pasrah".
b) Jika tidak ada mekanisme yang baik dalam proses akan ada sikap ketergantungan siswa.


MENCARI PASANGAN MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF 

E. Teknik-Teknik dalam Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Berikut ini teknik pembelajaran yang dapat mewakili Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

1. Student teams achievement division (STAD)
Langkah-langkah:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang.
2) Guru menyajikan materi pelajaran.
3) Guru memberi peran untuk dikerjakan, anggota kelompok yang     mengetahui jawabannya menunjukkan penjelasan kepada anggota    kelompok.
4) Guru menunjukkan pertanyaan/kuis dan siswa menjawab pertanyaan/kuis dengan tidak saling membantu.
5) Pembahasan kuis
6) Kesimpulan

JIGSAW MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )


2. Jigsaw (model tim ahli)
Langkah-langkah:
1) Siswa dikelompokkan dengan anggota 4 orang
2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan peran yang berbeda
3) Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama     membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4) Setelah kelomppok jago berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok  tentang subbab yang mereka kuasai
5) Tiap tim jago mempresentasikan hasil diskusi
6) Pembahasan
7) Penutup

3. Group investivigation go a round
Langkah-langkah:
1) Membagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 siswa
2) Memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis
3) Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurun waktu yang disepakati.

4.Think pair and share
Langkah-langkah:
1) Guru menunjukkan inti materi
2) Siswa berdiskusi dengan sahabat sebelahnya perihal materi/permasalahan yang disampaikan guru
3) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
4) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada    materi/permasalahan yang belum diungkap siswa
5) kesimpulan

5. Make a match (membuat pasangan)
Langkah-langkah:
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban)
2) Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan akhir atau soal  dari kartu yang dipegang.
3) Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan      kartunya (kartu soal/kartu jawaban)
4) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu  diberi poin
5) Setelah satu babak kartu dikocok lagi semoga tiap siswa mendapat  kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya
6) Kesimpulan.

6. Mencari Pasangan
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik atau reviev materi (tepat dikala menjelang tes).
2) Setiap siswa mendapat kartu.
3) Setiap siswa mencari kartu yang cocok dengan pasangannya. Misalnya "LIMA" maka pasangannya "PERU". "JAKARTA" -- "INDONESIA" dst.

a) Setiap siswa mendapatkan satu pasang.
b) Guru menunjukkan peran dan siswa mengerja-kan  peran dengan pasangannya.
c) Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan yang lain.
d) Kedua pasangan tersebut bertukar. Masing-masing pasangan yang baru akan bertukar informasi.
f) Temuan baru yang didapatkan dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.

KEPALA BERNOMOR MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )




8. Kepala Bernomor
a) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b) Guru menunjukkan peran masing-masing kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok memutuskan akhir yang dianggap benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui akhir ini.
d) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.

a) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat
b) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya untuk bergabung ke kelompok yang lain.
c)  Dua orang yang tinggal mempunyai peran untuk memberi informasi kepada tamu.
d) Tamu akan kembali ke tempat semula untuk melaporkan hasil kunjungannya.
e) Kelompok akan membahasnya.

10. Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Chips
Talking yaitu sebuah kata yang diambil dari bahasa inggris yang berarti berbicara, sedangkan chips yang berarti kartu. Kaprikornus arti talking chips yaitu kartu untuk berbicara. Sedangkan talking chips dalam pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang, masing-masing anggota kelompok membawa sejumlah kartu yang berfungsi untuk menandai apabila mereka telah berpendapat dengan memasukkan kartu tersebut ke atas meja. Model pembelajaran talking chips atau kancing gemerincing merupakan salah satu model pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif.

Pembelajar kooperatif tipe talking chips pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992. Dalam kegiatan talking chips, masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk menunjukkan kontruksi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain. Keunggulan lain dari teknik ini yaitu untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok. Sebagaimana dinyatakan Masitoh dan Laksmi Dewi dalam bukunya Strategi Pembelajar (2009:244) model pembelajaran talking chips merupakan model pemelajaran kancing gemerincing yang dikembangkan oleh Spender Kagan (1992).

Dalam pelaksanaan talking chips setiap anggota kelompok diberi sejumlah kartu atau “chips” (biasanya dua hingga tiga kartu). Setiap kali salah seorang anggota kelompok menunjukkan pendapat dalam diskusi, ia harus meletakan satu kartunya ditengah kelompok. Setiap anggota diperkenankan menambah pendapatnya hingga semua kartu yang dimilikinya habis. Jika kartu yang dimilikinya habis, ia tidak boleh berbicara lagi hingga semua anggota kelomoknya juga menghabiskan semua kartu mereka. Jika semua kartu telah habis, sedangkan peran belum selesai, kelompok boleh mengambil kesempatan untuk membagi-bagi kartu lagi dan diskusi dapat diteruskan kembali (Kagan, 2000 : 47).

Langkah penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Talking Chips:
1) siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sekitar 4-6 orang perkelompok.
2) kelompoknya para siswa diminta untuk mendiskusikan suatu duduk perkara atau materi pelajaran.
3) Setiap kelompok diberi 4-5 kartu yang digunakan untuk siswa berbicara.
4) Setelah siswa mengemukakan pendapatnya, maka kartu disimpan di atas meja kelompoknya.
5) Proses dilanjutkan hingga seluruh siswa dapat menggunakan kartunya untuk berbicara.

Dalam cara lain, penggunaan kartu dapat diganti oleh benda-benda kecil lainnya yang dapat menarik perhatian siswa, misalnya kancing, kacang merah, biji kenari, episode sedotan, batang-batang lidi, sendok es krim, dan lain-lain. Karena benda-benda tersebut berbunyi gemerincing, maka istilah untuk talking chips dapat disebut juga dengan “kancing gemerincing” (Lie, 2002 : 63).   

Adapun langkah-langkah pembelajaran yaitu sbb
1) Guru menyiapkan kotak kecil yang berisikan kancing-kancing.
2) Setiap siswa dalam masing-masing kelompok mendapatkan dua atau tiga buah kancing
3) Setiap kali seorang siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat wangsit harus menyerahkan salah satu kancingnya; 
4) Jika kancing yang dimiliki seorang siswa habis, ia tidak boleh berbicara lagi hingga semua rekannya juga menghabiskan kancing mereka.
5) Jika semua kancing sudah habis, sedangkan peran belum selesai, kelompok boleh mengambil kesepakatan untuk membagi-bagi kancing lagi dan mengulangi prosedurnya kembali (Masitoh dan Laksmi Dewi. 2009:244)

Terima kasih Anda telah membaca artikel Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning semoga bermanfaat




= Baca Juga =




Sumber https://roda-pendidikan.blogspot.com/

Kamis, 10 November 2016

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )

A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Cooperative Learning merupakan seni manajemen pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Saptono, 2003:32). Kepada siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus semoga dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, mirip menjelaskan kepada sahabat sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah, dan sebagainya.

Strategi pembelajaran dengan kooperatif learning dipakai alasannya yaitu untuk menunjukkan pemahaman kepada siswa perihal arti pentingnya kerjasama kelompok namun tetap memperhatikan terhadap perjuangan individual. Hal ini sesuai dengan sifat dan kodrat manusia sebagai mahkluk sosial. Selain itu bila dikaitkan dengan profesi dalam bidang teknologi informasi yang sering bekerja secara kelompok atau tim. Oleh karena  itu perlu kiranya dalam pembelajaran diberikan pemahaman perihal arti pentingnya kerjasama dan sama kerja dalam kelompok.

Ada 5 prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, (5) evaluasi proses kelompok (Lie, 2002). Menuntut kerjasama siswa dan saling ketergantungan dalam struktur tugas, tujuan, dan hadiah. Struktur Tugas, siswa melakukan program secara tolong-menolong (kerjasama dan sama kerja). Struktur Tujuan, tiap-tiap individu ikut andil menyumbang dalam pencapai tujuan. Struktur Hadiah, keberhasilan individu yaitu atas perjuangan secara bersama-sama.

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )

B. Landasan Teoritis dan Empirik Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

John Dewey 1916, Democracy and Education.
  1. Kelas merupakan cermin masyarakat daerah untuk berguru kehidupan nyata.
  2. Guru menciptakan lingkungan berguru dengan prosedur demokrasi dan ilmiah.
  3. Memotivasi siswa untuk berguru secara kooperatif.

Herbert Thelen 1954, 1969.
  1. Mengembangkan pembelajaran semoga siswa berguru secara kelompok.
  2. Kelas mmerupakan laboratorium untuk mengkaji duduk perkara sosial dan antar pribadi.

Gordon Allport
  1. Kontak langsung antar etnik.
  2. Berperan dalam kelompok dalam seting tertentu.
  3. Setting itu mendapatkan persetujuan antar etnik.

  1. Melaporkan 45 penelitian perihal pembelajaran kooperatif dan pengaruhnya terhadap hasil belajar.
  2. Studi ini meliputi semua kelas dan bidang studi bahasa, geografi, ilmu sosial, sains, matematika, membaca dan menulis.
  3. Lokasi penelitian di Israel, Nigeria, Jerman, dan USA.
  4. Hasilnya 37 di antaranya menunjukkan hasil yang signifikan, 8 tidak ada perbedaan, dan tidak satupun menunjukkan pengaruh yang negatif.

Lundgren 1994
  1. Memberikan dampak kepada siswa yang berkemampuan kurang.
  2. Memberikan motivasi kepada siswa yang lain.

Mohamad Nur 1997
  1. Meningkatkan pencurahan waktu dan tugas.
  2. Memperbaiki kehadiran.
  3. Pemerimaan perbedaan individu menjadi lebih besar.
  4. Perilaku penganggu menjadi lebih kecil.
  5. Konflik antar langsung menjadi berkurang.
  6. Sikap apatis berkurang.

Harmanto 2004 (di Perguruan Tinggi/mahasiswa kegiatan studi PKn)

  1. Menyenangkan
  2. Tingkat kelulusan tinggi (98%)

C. Unsur-unsur dan Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Menurut Lie (2002) ada Lima unsur Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning
  1. Saling ketergantungan positif.
  2. Tanggung jawab perseorangan
  3. Tatap muka
  4. Komunikasi antar anggota
  5. Evaluasi proses kelompok (Lie, 2002).

Sedangkan menurut Lundgren (Sukarmin, 2002:2), Unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan pada diri siswa semoga Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning lebih efektif yaitu sebagai berikut :
a) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau  berenang bersama”
b) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d) Para siswa harus membagi peran dan membuatkan tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok.
e) Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akanikut kuat terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f)  Para siswa membuatkan kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.   
g. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Sementara itu, menurut Nur (2001:3) pembelajaran yang menggunakan model cooperative learning pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b) Kelompok dibentukdari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, bangsa, suku,dan jenis kelamin yang berbeda-beda.    
d) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF


D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning
Adapun kelelihan model pembelajaran kooperatif adalah
a) menunjukkan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep sendiri dan cara memecahkan masalah,
b)memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreatifitas dalam melakukan komunikasi dengan sahabat sekelompoknya,
c) membiasakan siswa untuk bersikap terbuka namun tegas,
d) meningkatkan motivasi berguru siswa,
e) membantu guru dalam pencapaian tujuan pembelajar. Kare4na langkah-langkah pembelajaran kooperatif mudah diterapkan di sekolah,
f)  mendorong motivasi guru untuk menciptakan media pengajaran, alasannya yaitu media begitu penting dalam pembelajaran kooperatif.

Sedangan kelemahan model pembelajaran kooperatif yaitu  diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan diskusi, mirip berguru kelompok biasa, siswa yang pandai menguasai jalannya   diskusi, sehingga siswa yang bodoh kurang kesempatan untuk   mengeluarkan pendapatnya, yang tidak terbiasa dengan belajar. Selian itu dalam penerapan model pembelajaran kooperatif, kelompok yang merasa gila dan sulit untuk bekerja sama.
Selain itu kelemahan lain penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning  yang sering muncu, yaitu:
a) Jika tidak ada bimbingan dari sahabat dan guru maka ada kalanya siswa yang selalu "pasrah".
b) Jika tidak ada mekanisme yang baik dalam proses akan ada sikap ketergantungan siswa.


MENCARI PASANGAN MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF 

E. Teknik-Teknik dalam Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

Berikut ini teknik pembelajaran yang dapat mewakili Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning

1. Student teams achievement division (STAD)
Langkah-langkah:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang.
2) Guru menyajikan materi pelajaran.
3) Guru memberi peran untuk dikerjakan, anggota kelompok yang     mengetahui jawabannya menunjukkan penjelasan kepada anggota    kelompok.
4) Guru menunjukkan pertanyaan/kuis dan siswa menjawab pertanyaan/kuis dengan tidak saling membantu.
5) Pembahasan kuis
6) Kesimpulan

JIGSAW MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )


2. Jigsaw (model tim ahli)
Langkah-langkah:
1) Siswa dikelompokkan dengan anggota 4 orang
2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan peran yang berbeda
3) Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama     membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4) Setelah kelomppok jago berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok  tentang subbab yang mereka kuasai
5) Tiap tim jago mempresentasikan hasil diskusi
6) Pembahasan
7) Penutup

3. Group investivigation go a round
Langkah-langkah:
1) Membagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari 5 siswa
2) Memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis
3) Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurun waktu yang disepakati.

4.Think pair and share
Langkah-langkah:
1) Guru memperlihatkan inti materi
2) Siswa berdiskusi dengan sahabat sebelahnya perihal materi/permasalahan yang disampaikan guru
3) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
4) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada    materi/permasalahan yang belum diungkap siswa
5) kesimpulan

5. Make a match (membuat pasangan)
Langkah-langkah:
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban)
2) Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan akhir atau soal  dari kartu yang dipegang.
3) Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan      kartunya (kartu soal/kartu jawaban)
4) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu  diberi poin
5) Setelah satu babak kartu dikocok lagi semoga tiap siswa mendapat  kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya
6) Kesimpulan.

6. Mencari Pasangan
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik atau reviev materi (tepat ketika menjelang tes).
2) Setiap siswa mendapat kartu.
3) Setiap siswa mencari kartu yang cocok dengan pasangannya. Misalnya "LIMA" maka pasangannya "PERU". "JAKARTA" -- "INDONESIA" dst.

a) Setiap siswa mendapatkan satu pasang.
b) Guru menunjukkan peran dan siswa mengerja-kan  peran dengan pasangannya.
c) Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan yang lain.
d) Kedua pasangan tersebut bertukar. Masing-masing pasangan yang baru akan bertukar informasi.
f) Temuan baru yang didapatkan dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.

KEPALA BERNOMOR MERUPAKAN CONTOH PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF (COOPERATIVE LEARNING )




8. Kepala Bernomor
a) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b) Guru menunjukkan peran masing-masing kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok memutuskan akhir yang dianggap benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui akhir ini.
d) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.

a) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat
b) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya untuk bergabung ke kelompok yang lain.
c)  Dua orang yang tinggal mempunyai peran untuk memberi informasi kepada tamu.
d) Tamu akan kembali ke daerah semula untuk melaporkan hasil kunjungannya.
e) Kelompok akan membahasnya.

10. Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Chips
Talking yaitu sebuah kata yang diambil dari bahasa inggris yang berarti berbicara, sedangkan chips yang berarti kartu. Jadi arti talking chips yaitu kartu untuk berbicara. Sedangkan talking chips dalam pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang, masing-masing anggota kelompok membawa sejumlah kartu yang berfungsi untuk menandai apabila mereka telah berpendapat dengan memasukkan kartu tersebut ke atas meja. Model pembelajaran talking chips atau kancing gemerincing merupakan salah satu model pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif.

Pembelajar kooperatif tipe talking chips pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1992. Dalam kegiatan talking chips, masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk menunjukkan kontruksi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain. Keunggulan lain dari teknik ini yaitu untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok. Sebagaimana dinyatakan Masitoh dan Laksmi Dewi dalam bukunya Strategi Pembelajar (2009:244) model pembelajaran talking chips merupakan model pemelajaran kancing gemerincing yang dikembangkan oleh Spender Kagan (1992).

Dalam pelaksanaan talking chips setiap anggota kelompok diberi sejumlah kartu atau “chips” (biasanya dua hingga tiga kartu). Setiap kali salah seorang anggota kelompok memperlihatkan pendapat dalam diskusi, ia harus meletakan satu kartunya ditengah kelompok. Setiap anggota diperkenankan menambah pendapatnya hingga semua kartu yang dimilikinya habis. Jika kartu yang dimilikinya habis, ia tidak boleh berbicara lagi hingga semua anggota kelomoknya juga menghabiskan semua kartu mereka. Jika semua kartu telah habis, sedangkan peran belum selesai, kelompok boleh mengambil kesempatan untuk membagi-bagi kartu lagi dan diskusi dapat diteruskan kembali (Kagan, 2000 : 47).

Langkah penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Talking Chips:
1) siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sekitar 4-6 orang perkelompok.
2) kelompoknya para siswa diminta untuk mendiskusikan suatu duduk perkara atau materi pelajaran.
3) Setiap kelompok diberi 4-5 kartu yang digunakan untuk siswa berbicara.
4) Setelah siswa mengemukakan pendapatnya, maka kartu disimpan di atas meja kelompoknya.
5) Proses dilanjutkan hingga seluruh siswa dapat menggunakan kartunya untuk berbicara.

Dalam cara lain, penggunaan kartu dapat diganti oleh benda-benda kecil lainnya yang dapat menarik perhatian siswa, misalnya kancing, kacang merah, biji kenari, episode sedotan, batang-batang lidi, sendok es krim, dan lain-lain. Karena benda-benda tersebut berbunyi gemerincing, maka istilah untuk talking chips dapat disebut juga dengan “kancing gemerincing” (Lie, 2002 : 63).   

Adapun langkah-langkah pembelajaran yaitu sbb
1) Guru menyiapkan kotak kecil yang berisikan kancing-kancing.
2) Setiap siswa dalam masing-masing kelompok mendapatkan dua atau tiga buah kancing
3) Setiap kali seorang siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat wangsit harus menyerahkan salah satu kancingnya; 
4) Jika kancing yang dimiliki seorang siswa habis, ia tidak boleh berbicara lagi hingga semua rekannya juga menghabiskan kancing mereka.
5) Jika semua kancing sudah habis, sedangkan peran belum selesai, kelompok boleh mengambil kesepakatan untuk membagi-bagi kancing lagi dan mengulangi prosedurnya kembali (Masitoh dan Laksmi Dewi. 2009:244)

Terima kasih Anda telah membaca artikel Model Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning semoga bermanfaat




= Baca Juga =




Sumber http://roda-pendidikan.blogspot.com